Asumsi dasar yang perlu dipenuhi untuk melakukan uji beda menggunakan paired samples t-test adalah:
- Dependent Variable berupa data kontinum (data interval atau rasio).
- Independent Variable adalah dua kelompok partisipan yang sama dan memiliki data berpasangan (misalnya: pre-test dan post-test). Dengan kata lain, pengukuran dilakukan pada orang yang sama sebanyak dua kali.
- Data harus terdistribusi normal. Gunakan uji beda non parametrik jika data tidak terdistribusi dengan normal.
- Tidak ada outliers.
Uji paired samples t-test digunakan untuk menganalisis perbedaan dalam satu kelompok yang sama. Responden untuk kedua pengukuran dalam pasangan adalah orang yang sama, sehingga skor pada kedua pengukuran tersebut saling berkaitan. Bentuk yang umum ditemui adalah partisipan yang sama, memiliki dua skor atau hasil pengukuran yang dilakukan pada waktu yang berbeda. Misalnya, skor saat sebelum dan sesudah mendapatkan treatment, pengukuran pada pagi dan malam hari, dan sebagainya.
Interpretasi dari hasil uji beda menggunakan paired samples t-test juga perlu dilakukan secara bertahap. Misalnya, peneliti ingin mengetahui perbedaan waktu reaksi partisipan ketika melihat tulisan berwarna hitam dan kuning. Tahapan interpretasi hasil paired samples t-test dapat dipahami dengan mempelajari contoh berikut:
Uji asumsi
Hal pertama yang perlu dilihat adalah uji asumsi terkait distribusi data; data harus terdistribusi normal. Tabel 19.1 menunjukkan hasil uji normalitas data (Shapiro-Wilk). Diketahui bahwa skor waktu reaksi partisipan terdistribusi normal (p = .34; p > .05). Artinya, sebaran data waktu reaksi pada kedua kondisi (stimulus hitam dan kuning) tidak berbeda secara signifikan dibandingkan sebaran data kurva normal. Dengan demikian, uji beda dapat dilakukan dengan statistik parametrik, paired samples t-test. Jika data tidak memenuhi uji asumsi normalitas data, maka uji parametrik tidak dapat dilanjutkan, perlu dilakukan uji non parametrik (Wilcoxon signed-rank).
Tabel 19.1: Contoh hasil uji normalitas normalitas sampel berpasangan W p Hitam Kuning 0.974 0.344 Uji Hipotesis
Selanjutnya, hal yang perlu dilihat adalah nilai p pada tabel paired samples t-test. Nilai p < .001 (p < .05) menunjukkan terdapat perbedaan signifikan waktu reaksi antara stimulus berwarna hitam dan kuning (lihat Tabel 19.2). Pada tabel output uji paired samples t-test juga dapat dilihat nilai Cohen’s d yang menunjukkan seberapa besar efek dari perbedaan warna stimulus terhadap perbedaan waktu reaksi pada kedua kelompok (effect size). Nilai t, df, p dan Cohen’s d diperlukan dalam penulisan interpretasi hasil uji beda antar kelompok, yang dapat dilihat pada contoh interpretasi hasil uji paired samples t-test.
Tabel 19.2: Contoh hasil analisis paired samples t-test Pengukuran 1 Pengukuran 2 t df p Cohen’s d SE Cohen’s d Hitam Kuning 5.546 49 < .001 0.784 0.224 Data deskriptif
Terakhir, informasi mengenai Mean dan SD diperlukan untuk mengetahui kelompok mana yang menunjukkan rata-rata skor paling tinggi. Contoh Tabel 19.3 menunjukkan stimulus hitam memiliki rata-rata waktu reaksi yang lebih lama dibandingkan stimulus kuning.
Tabel 19.3: Contoh statistik deskriptif paired samples t-test N Mean SD SE Coefficient of Variation Hitam 50 67.840 9.303 1.316 0.137 Kuning 50 58.560 7.680 1.086 0.131
Pelaporan hasil uji beda paired samples t-test dengan mengikuti format penulisan APA, sama dengan pelaporan uji independent samples t-test. Hasil paired samples t-test menunjukkan terdapat perbedaan waktu reaksi yang signifikan (t (49) = 5.55, p < .001, d = .78) antara stimulus berwarna hitam (M = 67.84, SD = 9.30) dan stimulus kuning (M = 58.56, SD = 7.68). Atau, waktu reaksi partisipan (t (49) = 5.55, p < .001, d = .78) ketika melihat stimulus hitam (M = 67.84, SD = 9.30) lebih lama dibandingkan ketika melihat stimulus kuning (M = 58.56, SD = 7.68).
Prinsip yang sama juga dapat diterapkan untuk interpretasi dan melaporkan hasil uji beda non parametrik, dengan melihat hasil uji Wilcoxon signed-rank, seperti pada contoh di Tabel 19.4.
Hasil uji Wilcoxon signed-rank menunjukkan bahwa partisipan menunjukkan perbedaan waktu reaksi yang signifikan antara stimulus berwarna hitam dan kuning (z= 4.45, p < .001). Output JASP uji Wilcoxon signed-rank tidak menampilkan secara otomatis Median (Mdn) masing-masing kelompok, sehingga jika diperlukan Median masing-masing kelompok, dapat dihitung dengan menggunakan menu Descriptive pada software JASP.
| Pengukuran 1 | Pengukuran 2 | W | z | df | p | Rank-Biserial Correlation | SE Rank-Biserial Correlation |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hitam | Kuning | 1021.5 | 4.446 | < .001 | 0.737 | 0.164 |